Ethereum Adalah Apa? Beda dengan Bitcoin dan Cara Kerjanya
Ethereum adalah blockchain yang menjalankan smart contract, dengan ETH sebagai asetnya. Pahami bedanya dengan Bitcoin, upgrade terbaru, dan risikonya.

Daftar isi
- Ethereum Adalah Apa dan Siapa yang Membuatnya
- Cara Kerja Ethereum: Smart Contract dan Biaya Gas
- Ethereum vs Bitcoin: Tabel Perbandingan
- Dari The Merge sampai Fusaka: Perkembangan yang Perlu Diketahui
- ETH di Indonesia: Regulasi dan Pajak
- Risiko Memegang dan Memakai Ethereum
- Mitos Umum tentang Ethereum
- Pertanyaan yang Sering Diajukan
- Sumber
Ethereum adalah jaringan blockchain yang bisa menjalankan program, disebut smart contract. Di atas jaringan ini berjalan berbagai aplikasi dan token. Ether (ETH) adalah aset kripto bawaannya, dipakai untuk membayar biaya transaksi dan untuk staking. Bedanya dengan Bitcoin ada pada tujuan: Bitcoin dirancang sebagai uang digital, sedangkan Ethereum dirancang sebagai platform.
Artikel ini bersifat edukasi. Isinya tidak dimaksudkan sebagai saran membeli atau menjual ETH.
Ethereum Adalah Apa dan Siapa yang Membuatnya
Menurut situs resminya, ethereum.org, Ethereum diluncurkan pada Juli 2015. Gagasannya datang dari pengembang perangkat lunak Vitalik Buterin, yang menerbitkan whitepaper pada 2013. Pada 2014 ia bergabung dengan rekan pendiri lain, antara lain Gavin Wood dan Joseph Lubin. Ide dasarnya sederhana. Kalau blockchain Bitcoin bisa mencatat siapa memiliki berapa koin, blockchain lain seharusnya juga bisa mencatat dan menjalankan aturan apa pun yang ditulis dalam bentuk kode.
Ada tiga istilah yang sering tertukar. Bedanya perlu dipahami sejak awal:
- Ethereum adalah jaringannya, yaitu blockchain beserta ribuan komputer (node) yang menjalankannya.
- Ether (ETH) adalah aset kripto bawaan jaringan tersebut. Saat Anda membuka aplikasi exchange dan melihat "Ethereum", yang Anda beli sebenarnya ETH.
- EVM (Ethereum Virtual Machine) adalah lingkungan virtual yang menjalankan kode dengan cara yang sama persis di semua node. Berkat EVM, sebuah smart contract memberi hasil yang identik di komputer mana pun.
Dalam percakapan sehari-hari, "Ethereum" sering dipakai untuk menyebut asetnya. Kebiasaan itu wajar, tetapi untuk memahami cara kerjanya, jaringan dan aset perlu dipisahkan.
Cara Kerja Ethereum: Smart Contract dan Biaya Gas
Smart contract
Smart contract adalah program yang disimpan di blockchain dan berjalan otomatis ketika syaratnya terpenuhi. Contohnya: "jika alamat A mengirim 100 token, kirimkan 1 token lain ke alamat A". Setelah program itu dipasang, siapa pun bisa memakainya, dan programnya tidak bisa diubah diam-diam oleh satu pihak (kecuali pembuatnya sejak awal menyiapkan fungsi untuk memperbarui).
Hampir semua hal yang Anda dengar soal "kripto selain Bitcoin" bergantung pada mekanisme ini:
- Stablecoin: banyak token yang nilainya dipatok ke dolar AS diterbitkan sebagai token di Ethereum.
- NFT: sertifikat kepemilikan digital yang dicatat oleh smart contract.
- Aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi): layanan pinjam-meminjam atau tukar token yang dijalankan kode, tanpa bank atau perusahaan sebagai perantara.
Akun dan biaya gas
Setiap tindakan di Ethereum, entah mengirim ETH, menukar token, atau menjalankan smart contract, membutuhkan daya komputasi jaringan. Biayanya disebut gas dan dibayar dalam ETH. Menurut dokumentasi ethereum.org, gas menjaga keamanan jaringan: biaya membuat spam jadi mahal dan mencegah kode yang berputar tanpa henti menghabiskan sumber daya.
Biaya itu terdiri atas dua bagian. Base fee dibakar, artinya dihapus dari peredaran. Priority fee (tip) diberikan kepada validator sebagai insentif agar transaksi Anda dimasukkan ke dalam blok.
Besarnya gas tidak tetap. Saat jaringan ramai, biayanya naik. Itu sebabnya pengguna kadang mendapati biaya transaksi yang lebih mahal dari nilai token yang ingin dikirim.
Validator dan staking
Ethereum tidak memakai penambang. Jaringan dijaga oleh validator yang mengunci ETH sebagai jaminan. Validator yang menjalankan tugasnya dengan benar mendapat imbalan ETH. Validator yang terbukti curang, misalnya menandatangani dua blok yang bertentangan, kehilangan sebagian jaminannya dan dikeluarkan dari jaringan. Proses ini disebut slashing.
Untuk menjadi validator mandiri dibutuhkan minimal 32 ETH. Sejak upgrade Pectra, saldo efektif satu validator bisa mencapai 2.048 ETH. Kebanyakan orang ikut staking lewat layanan pihak ketiga, misalnya exchange atau pool staking. Menurut ethereum.org, cara ini membawa risiko tambahan, yaitu risiko pihak lawan dan risiko smart contract.
Ethereum vs Bitcoin: Tabel Perbandingan
Data berikut dirangkum dari beberapa halaman resmi ethereum.org (perbandingan Ethereum vs Bitcoin, The Merge, dan dokumentasi gas), per Oktober 2026.
| Aspek | Bitcoin | Ethereum |
|---|---|---|
| Tujuan utama | Uang digital, penyimpan nilai | Platform untuk aplikasi dan token |
| Tahun peluncuran | 2009 | 2015 |
| Mekanisme konsensus | Proof of Work (penambang) | Proof of Stake sejak The Merge 2022 (validator) |
| Batas pasokan | Tetap, 21 juta koin | Tanpa batas pasokan tetap |
| Smart contract | Sangat terbatas | Fitur inti |
| Pembakaran biaya | Tidak ada | Base fee dibakar (EIP-1559) |
| Finalitas | Sekitar 1 jam (±6 konfirmasi) | Sekitar 15 menit |
| Konsumsi energi | Tinggi (penambangan) | Turun sekitar 99,95% setelah The Merge |
Satu baris perlu dijelaskan lebih jauh. Dengan EIP-1559, base fee setiap transaksi dibakar. Kalau aktivitas jaringan tinggi, ETH yang dibakar bisa lebih banyak daripada ETH baru yang diterbitkan, sehingga pasokan menyusut. Kalau aktivitas sepi, yang terjadi sebaliknya. Jadi kondisi deflasi hanya terjadi pada periode tertentu, tidak permanen.
Menurut kami, membandingkan Bitcoin dan Ethereum seperti membandingkan emas batangan dengan sistem operasi. Bitcoin sengaja dibuat sederhana dan jarang berubah, karena kestabilan aturan adalah nilai jualnya. Ethereum sengaja dibuat fleksibel dan rutin diperbarui, karena tujuannya menampung aplikasi. Mana yang lebih cocok bergantung pada apa yang ingin Anda pahami atau pakai.
Dari The Merge sampai Fusaka: Perkembangan yang Perlu Diketahui
Banyak artikel tentang Ethereum berhenti di 2022. Padahal sejak itu jaringan ini sudah beberapa kali diperbarui.
The Merge (15 September 2022). Ethereum beralih dari Proof of Work ke Proof of Stake. Menurut ethereum.org, konsumsi energi jaringan turun sekitar 99,95%. Sejak saat itu ETH tidak bisa lagi ditambang.
Pectra (7 Mei 2025). Upgrade ini aktif di mainnet pada 7 Mei 2025 pukul 10.05 UTC. Ada dua perubahan yang paling terasa. Pertama, EIP-7702, yang memungkinkan alamat wallet biasa mendapat kemampuan mirip smart contract, misalnya menggabungkan beberapa transaksi sekaligus. Kedua, EIP-7251, yang menaikkan batas saldo efektif validator dari 32 menjadi 2.048 ETH.
Fusaka (3 Desember 2025). Fitur utamanya PeerDAS. Dengan PeerDAS, node tidak perlu lagi menyimpan seluruh data "blob" yang dipakai jaringan layer 2. Tiap node penuh cukup menyimpan seperdelapannya. Menurut ethereum.org, secara teori kapasitas blob bisa naik hingga delapan kali lipat. Manfaat utamanya adalah transaksi layer 2 yang lebih murah. Fusaka tidak langsung menurunkan biaya gas di jaringan utama.
Glamsterdam (belum ada tanggal mainnet). Upgrade berikutnya ini masih dalam tahap uji. Pada 22 Oktober 2026, Ethereum Foundation mengumumkan bahwa aktivasi Glamsterdam di testnet Hoodi, yang semula dijadwalkan 26 Oktober 2026, ditunda. Pengembang ingin meneliti lebih jauh interaksi EIP-8037 dengan smart contract yang sudah ada di mainnet. Tanggal pengganti untuk Hoodi belum ditetapkan, apalagi tanggal mainnet. Bila Anda menemukan artikel yang menyebut tanggal pasti, cek ulang ke blog.ethereum.org.
ETH di Indonesia: Regulasi dan Pajak
Sejak 10 Januari 2025, pengaturan dan pengawasan aset kripto di Indonesia beralih dari Bappebti (Kementerian Perdagangan) ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dasarnya UU No. 4 Tahun 2023 (UU P2SK) dan PP No. 49 Tahun 2024. Pada 20 Januari 2026, OJK dan Bappebti secara resmi mengakhiri masa transisi peralihan tersebut. Rincian pembagian wewenangnya kami bahas di artikel siapa pengawas kripto di Indonesia, OJK atau Bappebti.
ETH tercantum dalam daftar aset kripto yang boleh diperdagangkan di pasar domestik. Daftar itu bisa berubah, jadi jangan hanya percaya pada artikel mana pun, termasuk artikel ini. Langkah memeriksanya sendiri ada di panduan cara cek aset kripto legal di daftar resmi. Pastikan juga platform tempat Anda bertransaksi termasuk exchange kripto yang berizin OJK.
Soal pajak, penjualan ETH di exchange dalam negeri dikenai PPh final yang dipungut langsung oleh platform. Hitungan dan cara melaporkannya di SPT ada di artikel pajak kripto 2026.
Risiko Memegang dan Memakai Ethereum
Harga sangat fluktuatif. Nilai ETH bisa naik atau turun tajam dalam hitungan hari. Tidak ada yang bisa menjamin arahnya, termasuk analis dan influencer. Jangan memakai uang kebutuhan pokok atau uang pinjaman.
Bug smart contract. Kode yang keliru bisa dieksploitasi, dan transaksi di blockchain umumnya tidak bisa dibatalkan. Aplikasi DeFi yang terlihat profesional pun tetap bisa diretas.
Token dan airdrop palsu. Siapa pun bisa membuat token di Ethereum dengan nama yang mirip proyek terkenal. Modus "klaim token gratis" yang meminta Anda menyambungkan wallet sering berujung pada saldo yang dikuras. Ciri-cirinya kami jelaskan di artikel airdrop kripto dan ciri penipuannya.
Biaya gas tidak bisa ditebak. Saat jaringan padat, biaya transaksi kecil bisa jadi tidak sebanding dengan nilainya.
Kehilangan akses wallet. Kalau Anda menyimpan ETH di wallet pribadi, lalu frasa pemulihan (seed phrase) hilang atau dicuri, aset Anda praktis tidak bisa dipulihkan. Tidak ada layanan pelanggan yang bisa mengembalikannya.
Pasokan tidak dibatasi. ETH tidak punya batas maksimal seperti Bitcoin. Pembakaran biaya hanya mengurangi pasokan ketika aktivitas jaringan tinggi.
Semua hal di atas adalah informasi umum, bukan nasihat keuangan. Aset kripto berisiko tinggi, dan Anda bisa kehilangan seluruh dana yang ditempatkan.
Mitos Umum tentang Ethereum
"Ethereum akan menggantikan Bitcoin." Tujuan keduanya berbeda, jadi anggapan bahwa salah satunya harus "menang" tidak tepat. Sudah lebih dari sepuluh tahun keduanya berjalan berdampingan.
"ETH selalu deflasi." Salah. Pasokan ETH hanya menyusut pada periode ketika biaya yang dibakar lebih besar daripada penerbitan baru.
"Semua token di Ethereum aman karena Ethereum-nya aman." Keamanan jaringan tidak menjamin keamanan setiap smart contract atau token yang dibuat orang di atasnya.
Sebelum membeli ETH di aplikasi mana pun, lakukan dua pengecekan dulu. Pertama, pastikan aset dan exchange-nya tercantum di daftar resmi. Kedua, pastikan Anda paham cara menyimpan frasa pemulihan wallet. Panduan di atas membahas keduanya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Ethereum sama dengan Ether?
Tidak persis. Ethereum adalah jaringannya, sedangkan Ether (ETH) adalah aset kripto yang dipakai di jaringan itu. Di aplikasi exchange, keduanya sering disebut "Ethereum".
Apakah ETH legal diperdagangkan di Indonesia?
ETH tercantum dalam daftar aset kripto yang boleh diperdagangkan di pasar domestik di bawah pengawasan OJK. Cek ulang statusnya di daftar resmi, dan pastikan Anda bertransaksi di exchange yang berizin.
Apakah Ethereum lebih baik dari Bitcoin?
Tergantung tujuannya. Bitcoin difokuskan sebagai uang digital dengan pasokan tetap. Ethereum difokuskan sebagai platform aplikasi. Tidak ada peringkat yang berlaku untuk semua orang.
Sumber
- Ethereum vs Bitcoin: apa perbedaannya?, ethereum.org (diakses 23 Oktober 2026)
- What is Ethereum?, ethereum.org (diakses 23 Oktober 2026)
- Gas and fees, ethereum.org (diakses 23 Oktober 2026)
- The Merge, ethereum.org (diakses 23 Oktober 2026)
- Pectra, ethereum.org (diakses 23 Oktober 2026)
- Fusaka, ethereum.org (diakses 23 Oktober 2026)
- Ethereum Virtual Machine (EVM), ethereum.org (diakses 23 Oktober 2026)
- Staking, ethereum.org (diakses 23 Oktober 2026)
- Glamsterdam on Hoodi Postponed, Ethereum Foundation Blog (terbit 22 Oktober 2026)
- Siaran Pers: Bappebti Kemendag Alihkan Tugas Pengaturan dan Pengawasan Aset Keuangan Digital termasuk Aset Kripto kepada OJK dan BI, OJK (terbit 10 Januari 2025)
- Siaran Pers SP 13: OJK dan Bappebti Akhiri Masa Transisi Peralihan Pengaturan dan Pengawasan Aset Keuangan Digital, OJK (terbit 20 Januari 2026)


